
Kalau ngobrol soal kenapa harga rumah mahal, obrolannya bisa sepanjang jalan tol.
Banyak pintu. Banyak faktor. Banyak tafsir.
Bahkan kata mahal saja belum tentu satu suara.
Mahal karena harganya terlalu tinggi?
Atau mahal karena daya beli yang terlalu rendah?
Dua-duanya bisa benar.
Dua-duanya bisa salah.
Maka pembahasannya panjang.
Panjang.
Dan sering melelahkan.
Namun, belakangan ini muncul satu narasi yang entah lahir dari mana, digoreng oleh siapa, dan untuk kepentingan apa:
Harga rumah mahal karena boomers membeli rumah untuk investasi, bukan untuk dihuni.
Narasi ini lalu naik level.
Bukan sekadar tuduhan.
Tapi kampanye.
Bahkan lebih jauh:
membeli rumah untuk investasi dianggap keliru.
Menurut saya, ini salah kaprah.
Sebagai catatan penting—sebelum disalahpahami—saya sepakat dengan segala ikhtiar agar hunian menjadi murah, layak, dan terjangkau.
Itu tujuan bersama.
Itu mimpi bersama.
Tapi jangan menabrak logika demi empati semu.
Orang Investasi Tidak Bisa Dilarang
Mari kita mulai dari yang paling dasar.
Seseorang bekerja keras.
Pagi sampai sore.
Kadang sampai malam.
Lalu ia punya kelebihan uang.
Ia bisa menabung.
Ia bisa menyimpan.
Ia bisa menginvestasikan.
Itu normal.
Itu sehat.
Setelah mempekerjakan dirinya, ia ingin mempekerjakan asetnya.
Agar uang tidak tidur.
Agar nilai tidak mati.
Itu juga kerja.
Itu juga usaha.
Itu juga bisnis.
Mosok orang usaha dilarang?
Selama halal.
Selama tidak merugikan orang lain.
Tidak ada alasan untuk melarang.
Kalau investasi dilarang, logikanya panjang.
Bisa ke mana-mana.
Dan bisa berbahaya.
Investasi Itu Perlu
Properti bukan sekadar bangunan.
Ia ekosistem.
Satu rumah dibangun, berapa banyak tangan yang bekerja?
Tukang.
Mandor.
Arsitek.
Supplier semen.
Pabrik baja ringan.
Pengangkut pasir.
Ekonomi bergerak.
Uang berputar.
Roda berderak.
Belum lagi properti produktif.
Kos.
Kontrakan.
Siapa yang pakai?
Mereka yang belum mampu beli rumah.
Kalau tidak ada investor kos,
mahasiswa tinggal di mana?
pekerja rantau tidur di mana?
Jadi jangan buru-buru memaki investasi.
Ia bukan musuh.
Ia bagian dari solusi.
Ritel VS Bandar
Di sinilah titik pentingnya.
Saya ingin meminjam istilah dari dunia saham.
Ada investor ritel.
Perorangan.
Beli sesuai kemampuan.
Satu unit.
Dua unit.
Sebanyak-banyaknya pun tidak banyak.
Kalau sendiri-sendiri,
hampir tidak menggerakkan harga.
Lalu ada bandar.
Modal besar.
Akses besar.
Land bank besar.
Mereka bisa menyimpan tanah bertahun-tahun.
Menahan suplai.
Menunggu harga naik.
Lalu melepas dengan harga yang sudah dikondisikan.
Di properti, logikanya sama.
Sekuat-kuatnya boomers borong rumah,
berapa banyak sih yang bisa mereka beli?
Mereka ritel.
Bukan pengendali pasar.
Yang punya daya mendikte harga justru mereka yang menguasai lahan dalam skala masif.
Institusi.
Korporasi.
Pengembang besar.
Arah Masalahnya Mulai Terlihat
Maka arah masalahnya menjadi lebih jelas.
Kelompok pertama—investor perorangan—
pengaruhnya kecil.
Hampir tidak signifikan.
Kelompok kedua—pemilik land bank raksasa—
inilah yang punya kekuatan struktural.
Inilah yang logis untuk diatur.
Dibatasi.
Diawasi.
Demi keadilan.
Demi keterjangkauan.
Demi pasar yang sehat.
Jangan salah sasaran.
Jangan salah tembak.
Kasihan boomers kalau terus dijadikan kambing hitam. ✌️
Masalah harga rumah terlalu serius untuk disederhanakan.
Dan terlalu penting untuk dibelokkan.

Ebook Cara Mudah Punya Rumah
Masalah backlog rumah di Indonesia masih cukup tinggi, dengan banyaknya permintaan yang belum terakomodasi. Hal ini menyebabkan banyak orang kesulitan memiliki rumah, terutama bagi mereka yang belum memahami cara membeli rumah yang tepat. Buku ini hadir untuk memberikan panduan sederhana tentang cara membeli rumah meski dengan modal terbatas, serta menjelaskan berbagai opsi yang tersedia, seperti KPR dan cicilan langsung ke pengembang.
0 Komentar