Harga rumah makin terasa seperti layang-layang putus: melambung tanpa ampun. Padahal, kata Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah, bahan bangunannya sendiri “nggak nakutin.” Yang menakutkan justru dua hal klasik: izin yang berliku dan tanah yang makin menggila.

Fahri datang langsung ke pameran Homelife Indonesia Series 2025, 26 November kemarin. Bukan sekadar mampir, tapi ingin “membuktikan dengan mata kepala” bahwa material rumah rakyat sebenarnya murah meriah. Harga pasar untuk hunian tipe kecil, menurut dia, seharusnya bisa jauh di bawah Rp100 juta.

Ia menyebut tipe 36 dan tipe 40 “murah banget”—asal hitungannya murni dari konstruksi. Tetapi begitu tanah dan perizinan ikut nimbrung, harga rumah berubah seperti angka lotre: mengejutkan, mengagetkan, dan bikin dompet meratap.


Inflasi yang Tak Pernah Tidur

Menurut Fahri, akar masalahnya bukan sekadar perizinan. Itu masih bisa dibereskan. Namun tanah—ah, tanah—ialah sumber inflasi paling bandel. Harganya tidak pernah turun, selalu naik, dan makin naik, seperti tangga tak berujung.

“Kalau kita ikutkan harga tanah, rumah rakyat jadi tidak layak,” tegasnya.

Artinya jelas: selama tanah dibiarkan liar mengikuti pasar tanpa kendali, program rumah murah hanya tinggal jargon.


Bangun di Atas Tanah Negara

Fahri mendorong strategi realistis: bangun rumah rakyat di atas tanah negara. Dengan begitu, biaya kepemilikan bisa ditekan drastis. Tanah adalah komponen terbesar dalam struktur harga perumahan; ketika itu dilepas, harga rumah bisa kembali ke akarnya: murah, manusiawi, terjangkau.


Tanah Kosong Tidak Boleh Jadi Arena Spekulasi

Ia juga menyinggung tanah-tanah kosong yang hanya jadi pajangan, bukan panganan. Bukan produktif, malah jadi objek spekulasi. Di sinilah ia mendorong negara untuk “memberatkan”—dalam arti mengenakan pajak tinggi bagi pemilik tanah yang membiarkan asetnya tidur panjang.

Tujuannya bukan sekadar menghukum, tapi menurunkan harga tanah itu sendiri, sehingga memberi efek ganda ke komponen harga lainnya. Tanah turun, rumah turun. Logika sederhana, tetapi sering diabaikan.


Arah Baru Rumah Murah?

Pertanyaannya kini: apakah negara siap membuat langkah seberani itu—mengendalikan tanah, menertibkan spekulasi, dan mengubah model penyediaan rumah rakyat? Atau kita akan terus membiarkan mimpi punya rumah menjauh, setapak demi setapak?

Dan Anda, siapkah menyaksikan lahirnya era rumah murah yang benar-benar murah? Atau kita perlu menunggu tanah berhenti naik—yang mungkin takkan pernah terjadi?

(Disadur dari BisnisUpdate.com)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *