Rumah Itu Semakin Dekat. Atau Justru Semakin Jauh?

Rumah.

Lima huruf. Tetapi bagi sebagian orang, rasanya seperti lima gunung yang harus didaki.

Harga tanah naik. Harga semen ikut menanjak. Gaji? Jalannya sering tertatih.

Banyak anak muda akhirnya hanya bisa melihat rumah dari layar ponsel. Di-save. Di-like. Lalu ditutup lagi karena cicilannya membuat dada ikut sesak.

Kini pemerintah menawarkan jalan baru.

KPR subsidi hingga 40 tahun.

Empat puluh tahun.

Nyaris sepanjang usia produktif seseorang.

Sebagian orang langsung bersorak. Sebagian lagi justru mengernyitkan dahi.

Apakah ini kabar baik?

Atau sekadar kabar yang terdengar baik?


Kabar Baiknya: Rumah Tidak Lagi Terlihat Mustahil

Sulit membantah manfaatnya.

Semakin panjang tenor, semakin ringan cicilan.

Yang semula harus membayar lebih dari satu juta rupiah, kini mungkin cukup sekitar lima ratus hingga tujuh ratus ribu rupiah setiap bulan.

Bagi pekerja dengan gaji Rp2-3 juta, selisih beberapa ratus ribu rupiah bukan sekadar angka.

Itu bisa menjadi pembeda.

Lolos atau gagal KPR.

Punya rumah atau tetap mengontrak.

Program ini juga memberi kesempatan lebih besar bagi generasi muda untuk membeli rumah lebih cepat. Tidak perlu menunggu usia 35 atau 40 tahun baru berani mengajukan KPR.

Backlog perumahan Indonesia memang masih besar. Jika akses pembiayaan diperluas, semakin banyak keluarga memiliki kesempatan memperoleh rumah pertama.

Di titik ini, kebijakan tersebut layak diapresiasi.


Tetapi Tidak Ada Cicilan yang Benar-Benar Murah

Ada pepatah lama.

Kalau sesuatu terasa murah hari ini, bisa jadi pembayarannya dipindahkan ke hari esok.

Begitulah tenor 40 tahun.

Cicilan memang mengecil.

Tetapi total uang yang keluar justru membesar.

Utang yang mestinya selesai dalam dua dekade, kini menemani hampir sepanjang perjalanan hidup.

Bayangkan.

Mengambil KPR pada usia 25 tahun.

Lunas ketika usia mendekati 65 tahun.

Saat sebagian orang mulai menikmati masa pensiun, sebagian lainnya masih sibuk membayar rumah.

Belum lagi jika pekerjaan berubah.

Teknologi berkembang begitu cepat.

Profesi yang hari ini menjanjikan, belum tentu masih ada dua puluh tahun lagi.

Apalagi empat puluh tahun.


Yang Tidak Terlihat: Beban Bank dan APBN

Bukan hanya debitur yang harus berhitung.

Bank pun harus berhitung lebih keras.

Dana masyarakat sebagian besar berasal dari tabungan dan deposito yang sifatnya jangka pendek.

Sementara kredit diberikan hingga empat dekade.

Di sinilah muncul istilah yang sering dibicarakan para ekonom: asset-liability mismatch.

Sederhananya, uang yang dipinjam bank berumur pendek, tetapi uang yang dipinjamkan berumur sangat panjang.

Kalau tidak dikelola dengan baik, likuiditas bisa terganggu.

Pemerintah pun memiliki tantangan lain.

Bunga KPR subsidi dipatok 5 persen.

Jika suatu hari suku bunga naik cukup tinggi, selisihnya harus ditanggung negara melalui subsidi.

Artinya, APBN bisa ikut memikul beban selama puluhan tahun.

Rumah memang dibeli rakyat.

Tetapi sebagian ongkosnya tetap dibayar negara.


Jangan Berhenti di KPR

Di sinilah letak persoalan sesungguhnya.

Masalah perumahan Indonesia bukan hanya soal cicilan.

Tetapi juga soal harga tanah.

Ketersediaan lahan.

Biaya pembangunan.

Perizinan.

Produktivitas industri konstruksi.

Kalau semua itu tidak ikut dibenahi, KPR 40 tahun hanya menjadi obat pereda nyeri.

Penyakitnya belum benar-benar sembuh.

Mungkin sudah waktunya pemerintah tidak hanya memperpanjang tenor kredit.

Tetapi juga memperbanyak pasokan rumah, mempercepat perizinan, membuka lebih banyak kawasan hunian baru, hingga mengembangkan rumah sewa yang layak bagi masyarakat yang memang belum siap membeli.

Karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuat orang mampu mencicil.

Melainkan benar-benar mampu memiliki rumah tanpa mengorbankan masa depannya.


Lalu, Bagaimana Menurut Anda?

KPR subsidi 40 tahun memang membuka pintu bagi lebih banyak keluarga untuk memiliki rumah.

Namun, pintu yang terbuka hari ini jangan sampai berubah menjadi beban yang harus dipikul hingga usia senja.

Kalau Anda diberi pilihan, mana yang lebih baik?

Cicilan ringan selama 40 tahun?

Atau cicilan lebih besar tetapi lunas jauh lebih cepat?

Saya ingin mendengar pendapat Anda. Karena urusan rumah, pada akhirnya, bukan hanya soal bangunan. Tetapi juga tentang bagaimana kita merancang kehidupan.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *